Kurang nyaman dengan tempat wudhu yang terbuka membuat saya meninggalkan KFC Pettarani petang tadi tanpa shalat maghrib terlebih dahulu. Meskipun terkesan ribet, tapi saya bahagia bisa berada di titik ini. Semacam ketidaknyamanan yang menyenangkan.

Atas kondisi tersebut saya mencari mesjid yang sekiranya saya lewati menuju destinasi saya selanjutnya. Singkat cerita, setelah menelusuri lorong-lorong, saya bertemu dengan mesjid Nurul Mu’jizat (kalau tidak salah ingat, hehe ✌️) di daerah Adhyaksa. Kira kira pukul 19.00 WITA saya tiba dan langsung menunaikan maghrib sebelum keburu isya. Menyadari waktu isya yang tinggal sebentar lagi datangnya, Tari yang waktu itu bersama saya menyarankan untuk sekalian saja isya di sana.

Berbeda dengan beberapa mesjid yang kerap saya singgahi selagi bepergian jauh, mesjid ini cukup ramai dengan bapak bapak yang berdiskusi dan ibu ibu yang membaca al-quran sembari menunggu isya. ‘Seperti Ramadhan saja’, mengutip yang dibilang Tari.

Foto di atas adalah ibu ibu yang sedang belajar membaca al-quran dengan tartil. Sekilas mengingatkan bahwa akhir-akhir ini saya jarang sekali membelai al-quran dalam hati. Dasar!

Saat itu saya sempat berpikir, jika ada yang pesimis dan beranggapan, ‘apa tidak terlambat, kalau ibu ibu itu baru belajar sekarang?’, saya akan mencoba berbagi pandangan bahwa menurut saya tidak ada kata terlambat untuk belajar, apalagi perkara al-quran. Bukankah indah menyadari kenyataan bahwa al-quran akan membersamai kita hingga akhir hayat? Entah itu dalam kondisi mahir atau masih berjuang dengan mode belajar. Lagi pula, sistem nilai dan uji kelayakan yang Allah jalankan siapa yang tahu?

Saya lalu bersyukur bisa menyaksikan aktifitas itu, sungguh menyulut nurani untuk meraih al-quran lebih sering. Selain itu, berangkat dari pemahaman bahwa ajal itu tidak hanya dekat dengan orang yang sudah tua melainkan dengan siapa saja, maka rasanya kita perlu memulai langkah untuk membersamai al-quran dari sekarang. Bagi yang belum, bisa memulai. Bagi yang sudah, bisa menambah. Bagi yang meninggalkan, bisa kembali. Mungkin akan terseok, tapi Allah maha melihat, lagi maha mengetahui, bukan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *